teks berjalan

Selamat Datang di Blog Si Penyayang Anjing Lucu

Rabies di Flores dan Lembata Bertambah Ganas

Koordinator Kelompok Peduli Pencegahan dan Pemberantasan Rabies di Flores, Nusa Tenggara Timur, dr Asep Purnama SpPD, mengatakan kasus rabies di Flores dan Lembata semakin tidak terkendali sehingga perlu keseriusan semua pihak untuk menanganinya.

"Kasus anjing gila (rabies) di Flores dan Lembata bertambah ganas dan semakin tidak terkendali sehingga perlu keseriusan semua komponen untuk menanganinya," kata Purnama yang juga Direktur RSUD TC Hillers Maumere itu di Kupang, Minggu (16/9).


Menurut dia, saat ini sedang disiapkan sebuah komite rabies untuk wilayah Flores dan Lembata untuk menggalang kerja sama dengan sembilan bupati dan masyarakat di wilayah tersebut agar lebih serius lagi dalam menanggulangi virus tersebut.


Ia mengatakan salah seorang pejuang rabies di NTT, Drh Maria Geong Phd, telah menyiapkan semacam peta rancangan (roadmap) pembebasan rabies dengan target Flores dan Lembata bebas rabies Tahun 2017.



Roadmap ini, kata Purnama, akan dikritisi dan dipresentasikan saat perayaan hari rabies sedunia , yang akan diperingati secara nasional di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka di Pulau Flores pada 8-9 Oktober 2012.

Menurut Purnama, dengan adanya advokasi dari Drh Maria Geong, bupati dan DPRD Sikka kemudian menyetujui pembentukan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kabupaten Sikka.


"Ini satu satunya kabupaten di Flores dan Lembata yang memiliki Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Sangat ironis, Flores yang punya banyak masalah hewan, tapi tidak punya dinas yang fokus mengurus kesehatan hewan," katanya.


Ia menambahkan saat ini ada imam Katolik di Maumere yang sangat peduli pada penyakit rabies yang tampak dari keberhasilan mereka dalam menggalang warga untuk memvaksinasi anjing agar tidak tertular rabies.

Romo Wilfried Valiance, Pastor Paroki Nelle, karena suksesnya menggerakkkan umatnya memvaksinasi anjing, diundang Kemenkes untuk mempresentasikan keberhasilannya di rapat koordinasi rabies tingkat nasional di Semarang.


Dengan berbagai pencapaian tersebut, Maumere mendapatkan penghargaan untuk menjadi tempat perayaan hari rabies sedunia.


Purnama mengatakan para ahli telah bersusah payah menemukan vaksin rabies, entah berapa puluh tahun waktu yang diperlukan dan berapa milyar biaya yang dikeluarkan.


"Sekarang giliran kita menggunakan dan menyebarkan senjata luar biasa ini (vaksin) ke anjing kita," katanya.


Dia menegaskan, setelah terjadi gigitan hewan penderita rabies, masa inkubasi biasanya antara 14-90 hari tetapi bisa sampai tujuh tahun.


Menurut para ahli, 95 persen masa inkubasi rabies 3-4 bulan, dan hanya satu persen kasus dengan inkubasi tujuh hari sampai tujuh tahun. Karena lamanya masa inkubasi tersebut kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan. Gejala klinis pada hewan dikenal dua bentuk yaitu bentuk beringas dan bentuk paralisis.


Bentuk beringas hewan menjadi gelisah, gugup, agresif dan menggigit apa saja yang ditemuinya, respon berlebihan pada suara dan sinar, takut air (hydrophobia) dan keluar air liur berlebihan (hipersalivasi)

Sumber:

Tidak ada komentar: